Selasa, 02 April 2013

TEKNOLOGI PENGOLAHAN TINJA


A. Tangki Septik Konvensional
Fungsi tangki septik konvensional adalah untuk mengolah
air limbah domestik dengan memanfaatkan proses biologis
melalui pemisahan padatan dari cairan dimana padatan
tersebut akan secara anaerobik terdekomposisi sementara
airnya akan dialirkan ke sistem pembuangan. Tangki septik
konvensional yang dilengkapi dengan sistem resapan merupakan
metode yang paling umum untuk pengolahan air
limbah rumah tangga dari perumahan yang tidak tersambung
dengan sistem perpipaan air buangan.
Tangki septik konvensional merupakan sistem pengolahan
air limbah rumah tangga yang paling banyak digunakan
untuk sistem individual di Indonesia.

Gambar : Tangki Septik Konvensional

B. Anaerobic Baffled Reactor
Anaerobic baffled reactor (ABR) dapat dikatakan sebagai
pengembangan tangki septik konvensional. ABR terdiri dari
kompartemen pengendap yang diikuti oleh beberapa
reaktor baffle. Baffle ini digunakan untuk mengarahkan
aliran air ke atas (upflow) melalui beberapa seri reaktor
selimut lumpur (sludge blanket). Konfigurasi ini memberikan
waktu kontak yang lebih lama antara biomasa anaerobik
dengan air limbah sehingga akan meningkatkan kinerja
pengolahan. Dari setiap kompartemen tersebut akan dihasilkan
gas.
Teknologi sanitasi ini dirancang menggunakan beberapa
baffle vertikal yang akan memaksa air limbah mengalir
keatas melalui media lumpur aktif. Pada ABR ini terdapat
tiga zone operasional: asidifikasi, fermentasi, dan buffer.
Zone asidifikasi terjadi pada kompartemen pertama dimana
nilai pH akan menurun karena terbentuknya asam lemak
volatil dan setelahnya akan meningkat lagi karena meningkatnya
kapasitas buffer. Zona buffer digunakan untuk menjaga
agar proses berjalan dengan baik. Gas methan dihasilkan
pada zona fermentasi.

Gambar : Anaerobic Baffled Reactor


C. Anaerobic Upflow Filter
Anaerobic upflow filter (AUF) merupakan proses pengolahan
air limbah dengan metode pengaliran air limbah ke atas
melalui media filter anaerobik. Sistem AUF ini memiliki
waktu detensi yang panjang dan akan menghasilkan efluen
anaerob serta biasanya digunakan untuk mengolah air
limbah yang telah diolah sebelumnya dan juga perlu ada
pengolahan lanjutan untuk mendapatkan efluen yang
memenuhi standar.
Mekanisme dasar pengolahan pada sistem ini adalah secara
fisik, yaitu flokulasi, sedimentasi dan adsorpsi. Proses atau
reaksi biologis secara anaerob sangatlah lambat dan tidak
memiliki dampak penurunan BOD yang signifikan kecuali
dengan waktu detensi yang lama. Namun beberapa organik
toksik dapat dikurangi melalui mekanisme fisik dan presipitasi
kimiawi (misalnya dengan sulfit) pada waktu detensi
yang lebih pendek.(Onsite Wastewater Treatment Systems
Technology Fact Sheet 5, EPA)


Gambar : Anaerobic Upflow Filter

D. Rotating Biological Contactor
Rotating biological contactor (RBC) merupakan salah satu
sistem pengolahan air limbah secara aerobik dengan sistem
lapisan tetap (aerobic fixed film system). RBC sendiri merupakan
media tempat menempelnya mikroorganisme aerobik.
Dalam sistem RBC terdapat tiga unit utama, yaitu: (Elisabeth v.
M√ľnch, 2005)
a. Zona primer: tangki sedimentasi dimana air limbah
masuk dan padatan akan terendapkan untuk kemudian
dibuang dengan penyedotan. Proses anaerobik dapat
pula terjadi pada zona ini
b. RBC: dimana pengolahan secara biologis terjadi. Sejumlah
cakram (disk) menempel pada tuas pemutar dan sebagian
dari cakram ini akan terendam oleh air buangan sehingga
akan terbentuk lingkungan biomasa aktif pada media. RBC
ini secara perlahan berputar pada porosnya sehingga
biomasa yang ada dapat kontak dengan air limbah maupun
oksigen di atmosfir secara bergantian
c. Zona pengendapan akhir: dimana terjadi pengendapan
campuran air limbah yang telah terolah dan biomasa
yang berlebih.

Gambar : Rotating Biological Contactor

E. Biofiltrasi
Biofiltrasi merupakan teknologi pengolahan air limbah yang
memanfaatkan material hidup untuk menangkap dan secara
biologis mendegradasi polutan didalamnya. Biofiltrasi air
limbah domestik merupakan proses pengolahan yang unik
dibandingkan dengan pengolahan biologis lainnya dimana
mikroorganisme menempel pada media kontak dan air
limbah dialirkan melewatinya untuk diolah. Teknologi
biofiltrasi ini secara umum dapat dibagi menjadi dua
kategori yaitu (a) sistem konvensional dimana mikroorganisme
menempel secara alami pada media kontak dan (b)
penempelan mikroorganisme secara artifisial pada material
polimer. Dalam sistem biofiltrasi modern, mikroorganisme
ditempelkan pada media kontak atau diperangkap dalam
suatu membran sehingga dapat lebih meningkatkan penyisihan
BOD dan padatan tersuspensi dibandingkan dengan
teknologi biofiltrasi konvensional.
Lebih jauh lagi, penyisihan BOD dan padatan tersuspensi
dalam air limbah dapat tercapai dengan baik apabila mekanisme
dan parameter yang mempengaruhi kekuatan penempelan
biofilm pada permukaan artifisial dapat diketahui dan
dikontrol.(Pract. Periodical of Haz., Toxic, and Radioactive
Waste Mgmt, Oct 2006).

F. Tripikon-S dan T-Pikon-H
Tripikon-S (Tri/Tiga Pipa Konsentris-Septik) merupakan
salah satu alternatif pengolahan air limbah domestik yang
pada awalnya dikembangkan oleh Laboratorium Teknik
Sipil Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Teknologi ini
dikembangkan untuk menjawab tantangan kondisi lingkungan
yang dihadapi di daerah yang terpengaruh pasang surut,
seperti misalnya daerah pesisir pantai, muara, sungai,
maupun rawa. Teknologi ini dapat diterapkan untuk toilet
individual maupun komunal.
Kemudian teknologi Tripikon-S ini dikembangkan lebih
lanjut oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan
melakukan perubahan dan rancang ulang sistem, menghasilkan
T-Pikon-H (T Pipa Horisontal).
Pengolahan yang terjadi dalam T-Pikon-H ini adalah secara
semi-aerob dan anaerob. Konsep dasar pengolahan adalah
dengan menggunakan 3 pipa, yaitu: (a) pipa kecil sebagi
inlet dari toilet; (b) pipa medium sebagai tempat terjadinya
proses dekomposisi biologis, dan (c) pipa besar sebagai
pelimpah (overflow) efluen. Ketiga pipa tersebut diatur
secara konsentris.
Kinerja kedua sistem ini masih perlu dikaji lebih lanjut,
namun bila dilihat dari ide pengolahannya, maka sistem ini
dapat menjadi salah satu alternatif pengolahan air limbah
yang potensial untuk dikembangkan. Dalam studi ini,
sistem T-Pikon-H menjadi salah satu rekomendasi, dengan
catatan bahwa kinerja pengolahan belum diketahui secara
pasti.
Gambar : Tripikon S



Gambar : Tripikon H


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar